MALAM MINGGU DI JEMBER
Hari itu, 17 September 2011
Masih dalam rangka melaksanakan tugas membuat profil usahawan muda. Kali ini, saya terdampar di kota Jember.
Jember adalah kota kabupaten. Dengan mengendarai mobil selama 3 jam dari kota Malang, maka kita akan tiba di kota Jember ini.
Malam ini, saya dan kru berjalan jalan ke alun alun kota Jember. Alun alun adalah sebuah lapangan besar yang luasnya bisa seluas lapangan bola.
Seperti kebanyakan di kota kota lainnya di seluruh Indonesia, alun alun biasanya menjadi sebuah spot yang disepakati bersama sebagai pusat kota.
Cuaca malam kota Jember cukup sejuk. Angin berhembus kencang. Dan mau tak mau, aku terpaksa memakai jaket untuk mengusir dingin.
Sejenak aku terpana melihat keramaian disana. Alun alun dipenuhi manusia. Tua muda, besar kecil, pria wanita, semua tumpah plek memenuhi sudut alun alun.
Malam minggu menjadi malam paling ramai di alun alun kota Jember. Alun alun dipenuhi para pedagang. Pedagang makanan, minuman, aksesoris wanita, buku, aksesoris handphone, obat obatan herbal, bahkan ada yang berjualan keong yang cangkangnya di cat warna warni.
Suara musik dari pedagang CD bajakan yang memutar CD nya lewat pengeras suara murahan juga membahana, memenuhi udara di alun alun, lumayan memekakkan telinga.
Anak anak kecil tampak merengek rengek pada orang tuanya minta dibelikan mainan atau balon atau layang layang.
Pasangan muda mudi tampak berkeliaran bergandengan tangan menunjukkan wajah cerianya.
Di sudut lain aku dapati sebuah promosi dagang dari produk motor. Mereka menyewa seorang pemain keyboard serba bisa plus dengan penyanyinya. Lagu yang mereka bawakan adalah lagu lagu dangdut dan pop. Yang membuat saya terhenyak kagum adalah, mereka juga menyewa seorang -artinya benar benar 1 orang- penari wanita. Dia menari mengikuti irama lagu, kira kira 10 meter di depan area stand promo. Karena gaya tarian -lebih tepat joget sih!- nya yang cukup heboh, akhirnya dia menjadi tontonan para pengunjung alun alun. Dan inilah strategi mereka, ketika penonton nampak asik mengerubungi si penari, si Sales Promotion Team sibuk membagikan brosur produknya.
Alun alun di kota Jember sangat berbeda dengan alun alun di kota Batu.
Pemerintah kotanya tidak menyulap lapangan itu menjadi sebuah area bermain keluarga. Lapangan hanya diperuntukkan untuk area olah raga. Disana saya lihat ada lapangan basket, sepakbola dan volley. Malam itu, beberapa remaja terlihatĀ asik memanfaatkan lapangan lapangan yang ada untuk berolahraga.
Walau tidak ada sarana area bermain keluarga, itu semua tidak menyurutkan minat warga Jember untuk datang ke alun alun meluangkan waktunya bersama kawan atau keluarga mereka.
Pedagang adalah satu satunya wahana yang secara tak langsung meramaikan area alun alun kota. Lampu lampu yang bersinar menyinari lapak mereka seperti menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung untuk mendekat melihat, syukur syukur membeli.
Pukul 7 malam saya dan kru mendamparkan diri di alun alun kota. Kami berjalan mengelilingi separuh alun alun. Setelah merasa lelah, kami mendatangi area resto alias foodcourt yang memang disediakan oleh pemerintah kota. Disana kita bisa menikmati berbagai makanan dan minuman.
Setelah puas menjadi saksi hidup di alun alun kota Jember, pukul 9 malam kami bergerak keluar dari alun alun. Menuju ke tempat penginapan. Istirahat, menghimpun tenaga untuk kembali kerja esok hari.
Salam…..
#sayangnya, saat itu saya tidak membawa kamera